Desain Penelitian The One Shot Case Study

DESAIN PENELITIAN EKSPERIMEN

Oleh: Joko Y, Chornia TW, Dini AN& Rosinta APP

I.     PENDAHULUAN

Penelitian kuantitatif merupakan salah satu penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan sangatlah sulit ditentukan jawabannya karena kondisi di lapangan yang sering berubah, yang berakibat pada derajat kepastian jawaban yang tidak cermat. Penelitian berdasarkan tingkat derajat kepastiannya dibagi menjadi empat macam penelitian, yaitu: penelitian historis, penelitian eksploratif, penelitian deskriptif, dan penelitian eksperimen (Sudjana, 2010:18). Pembagian penelitian ini didasarkan pada tingkat derajat kepastian, dari derajat kepastian rendah hingga paling tinggi, yaitu penelitian eksperimen.

Penelitian eksperimen yang dianggap mempunyai derajat kepastian paling tinggi (tidak mutlak). Peneliti membuat prediksi terhadap penelitian eksperimen. Kondisi diatur sedemikian rupa, perlakuan terhadap objek dilakukan, akibat suatu perlakuan diukur secara cermat, faktor luar yang mungkin berpengaruh dikendalikan, dengan harapan derajat kepastian jawaban semakinh tinggi (Sudjana, 2010:18-19). Untuk itulah, dalam makalah ini akan lebih dijelaskan lagi tentang penelitian eksperimen yang lebih jelas.

II.  PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN

Penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang di dalamnya melibatkan manipulasi terhadap kondisi subjek yang diteliti, disertai upaya kontrol yang ketat terhadap faktor-faktor luar serta melibatkan subjek pembanding atau metode ilmiah yang sistematis yang dilakukan untuk membangun hubungan yang melibatkan fenomena sebab akibat(Arifin,2009: 127).

Metode penelitian eksperimental merupakan metode penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal (sebab akibat). Dalam studi eksperimtal peneliti memanipulasi paling sedikit satu variable, mengontrol variable lain yang relevan, dan mengobservasi efek/pengaruhnya terhadap satu atau lebih variable terikat. Peneliti menentukan “siapa memperoleh apa”, kelompok mana dari subjek yang memperoleh perlaakuan mana. Manipulasi variable bebas merupakan salahsatu karakteristik yang membedakan penelitian eksperimental dengan model penelitian lain. Variable bebas juga diacu sebagai variable eksperimental, variable penyebab,atauvariable perlakuan yang aktifitas atau karakteristiknya dipercaya membuat suatu perbedaan. Dalam penelitian pendidikan variable yang bisa dimanipulasi termasuk metode pengajaran, jenis penguatan, pengaturan lingkungan belajar, jenis materi belajar dan ukuran kelompok belajar. Variable terikat  juga diacu sebagai variable keriteria atau variable pengaruh dari hasil studi. Perubahan atau perbedaan dalam kelompok dipercaya sebagai suatu hasil manipulasi variable bebas.

III.CIRI-CIRI PENELITIAN EKSPERIMEN

Eksperimen merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menguji hipotesis. Metode ini mengungkap hubungan antara dua variabel atau lebih yang mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain.

Secara sederhana, penelitian eksperimen mempunyai beberapa karakteristik yang mendasar, yaitu:

1.     Adanya variabel bebas yang dimanipulasi

Memanipulasi variabel berarti tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat (Sukardi, 2010:181).

2.     Adanya pengendalian terhadap semua variabel kecuali variabel bebas

Mengontrol variabel merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain pada variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan variabel tersebut. Kegiatan ini merupakan hal terpenting dalam penelitian eksperimen karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat (Sukardi, 2010:181). Kontrol ini dimaksudkan untuk mempermudah seorang peneliti dalam memilah beberapa anggota variabel dan membantu juga untuk mempermudah treatment yang akan diberikan kepada grup kontrol.

Eksperimen memuat dua kontrol yang biasa digunakan, yaitu asumsi pertama dan asumsi kedua. Asumsi pertama berlaku jika dua situasi sama dalam setiap hal kecuali satu faktor yang ditambahkan atau dihilangkan dari salah satu situasi tersebut, maka tiap perbedaan yang timbul antara dua situasi dapat diatribusikan kepada faktor lain. Hukum variabel yang berlaku adalah variabel tunggal. Asumsi kedua berlaku jika dua situasi tidak sama, tapi dapat ditunjukkan bahwa tak ada satupun dari variabelnya signifikan dalam menimbulkan peristiwa yang sedang diteliti, atau jika variabelnya dibuat sama, perbedaan yang terjadi diberi satu variabel baru. Hukum variabel yang berlaku adalah hukum variabel satu-satunya.

Ada lima prosedur dasar yang biasanya dipakai untuk meningkatkan kesamaan antara kelompok yang dikenakan berbagai situasi eksperimen, yaitu: (1) random assigment (penempatan secara acak), (2) randomized matching (pasangan yang dibuat secara acak), (3) homogeneous selection (pemilikan homogen), (4) analisis kovarian, dan (5) penggunaan para subjek sebagai kontrol (Sudjana, 2010:23).

Contoh penerapan adanya pengendalian terhadap semua variabel kecuali variabel bebas adalah (Gambaran unsur-unsur pokok dalam penelitian eksperimen ini dicontohkan dalam Sudjana (2010:20):

Sebuah eksperimen tentang: Pengaruh Penggunaan Media Grafis terhadap Kemampuan memahami materi Pelajaran Bahasa (Eksperimen pada Murid kelas VII SMP X).

a.    Variabel bebas     : penggunaan media grafis, dilakukan oleh guru atau peneliti

pada waktu mengajar mata pelajaran bahasa, misalnya: gambar, bagan, grafis, diagram, dll.

b.    Variabel terikat: kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran bahasa yang diberikan guru. Variabel ini diukur setelah penggunaan media grafis selesai diterapkan dalam satu waktu tertentu.

c.    Hipotesis penelitian      : pemahaman materi pelajaran bahasa pada siswa Kelas VII SMP X yang diajar dengan menggunakan media grafis, lebih tinggi daripada siswa yang diajar tanpa media grafis.

d.   Sampel                       : siswa kelas VII SMP X.

e.    Kontrol: kontrol dilakukan dengan cara membagi siswa Kelas VII SMP X menjadi dua kelas. Satu kelas diajar dengan menggunakan media grafis, satu kelas lagi diajar tanpa menggunakan media grafis. Bahan pelajaran, waktu pelajaran, guru yang mengajar, dibuat sama.

f.     Prosedur: eksperimen ini menggunakan suatu random desain yang sederhana dengan dua kelompok perlakuan. Kelompok I mendapat pelajaran dari guru yang menggunakan media grafis. Kelompok II mendapat pelajaran dari guru tanpa menggunakan media grafis, cukup dengan penjelasan guru seperti biasa.

g.    Hasil uji:        Hasil uji- t digunakan untuk melihat signifikasi perbedaan hasil tes siswa dari kedua kelas tersebut. Hasil menunjukkan adanya perbedaan dalam pemahaman bahasa. Rata-rata pemahaman siswa kelompok I lebih tinggi dan berbeda secara signifikan pada taraf 0,05 daripada rata-rata siswa kelompok II.

h.    Kesimpulannya         : hipotesis penelitian diterima.

3.    Adanya pengamatan terhadap efek atau pengaruhnya terhadap variabel

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh manipulasi variable bebas terhadap variable terikat dalam suatu penelitian eksperimental, pengamatan perlu dilakukan. Pengamatan dilakukan pada cirri-ciri tingkah laku subjek yang diteliti. Contoh, bila peneliti melakukan eksperimen untuk mengetahui apakah metode tertentu mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar bahasa Indonesia. Maka setelah pelaksanaan perlakuan dilakukan pengukuran pada prestasi belajar bahasa Indonesia pada kedua kelompok eksperimental dan kelompok kontrol dengan mengunakan tes. Hasil tes kemudian dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan.

Tindakan observasi/pengamatan dilakukan peneliti pada umunya mempunyai tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang munculyang memungkinkan terjadinya perbedaan diantara kedua kelompok.

Berdasarkan karakteristik tersebut, dalam eksperimen ada dua variabel yang utama, yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas sengaja dimanipulasi oleh peneliti, sedangkan variabel yang diamati sebagai akibat dari manipulasi variabel bebas adalah variabel terikat.

IV. BEBERAPA RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMEN

1.                  DESAIN DENGAN SATU VARIABEL BEBAS

Desain dengan satu variabel bebas, meliputi;

1.1. Desain studi kasus sekali tes (one shot case study)

Desain studi kasus sekali test merupakan jenis desain pre-eksperimen. Pada jenis ini tidak terdapat kelompok kontrol dan hanya satu kelompok yang diukur dan diamati gejala-gejala yang muncul setelah diberi perlakuan (postes).

Desainnya sebagai berikut:

1.2. Desain pretes-postes satu kelompok (One Group Pretes Postes Design)

Desain pretes-postes satu kelompok  juga termasuk pre-eksperimen. Pada desain ini dilakukan pretes untuk mengetahui keadaan awal subjek sebelum diberi perlakuan sehingga peneliti dapat mengetahui kondisi subjek yang diteliti sebelum atau sesudah diberi perlakuan yang hasilnya dapat dibandingkan atau dilihat perubahannya (Sukardi, 2010:180-181).

Desainnya sebagai berikut;

Pretes

Perlakuan

Postes

O1

X

O2

Untuk penelitian-penelitian pendidikan yang menerapkan metode pembelajaran, desain ini masih belum tepat karena perubahan atau perbedaan skor antara pretes dan postes bisa jadi bukan karena disebabkan oleh perlakuan yang diberikan, tetapi karena faktor-faktor lain.

1.3.     Perbandingan kelompok statik (static  group comparison)

Perbandingan kelompok statik terdapat kelompok kontrol selain kelompok eksperimen. Masing-masing kelompok tidak diberikan pretes untuk mengetahui kondisi awalnya namun diberi postes untuk mengetahui gejala yang terjadi setelah diberikan perlakuan.

Desainnya sebagai berikut:

Kelompok

Perlakuan

Postes

Eksperimen

X

O2

Kontrol

-

O2

Pada desain ini, kelompok kontrol tidak diberikan perlakuanX tetapi diberikan tes yang sama dengan tes yang diberikan pada kelompok eksperimen kemudian hasil postes dibandingkan.

1.4.  Desain eksperimen, meliputi:

1.4.1.Desain postes kelompok kontrol subjek random

Desain ini menggunakan pemilihan subjek secara acak dan melibatkan dua kelompok subjek (kelompok eksperimen dan kontrol) tanpa pretes.

Desainnya adalah:

Kelompok

Perlakuan

Postes

(R)

Eksperimen

X

O2

(R)

Kontrol

-

O2

1.4.2.Desain pasangan subjek postes secara random

Desain ini menggunakan random pasangan untuk pemilihan kedua kelompok subjek sekaligus.

Desainnya sebagai berikut;

Kelompok

Perlakuan

Postes

Eksperimen

X

O2

(MR)

Kontrol

-

O2

1.4.3. Desain pretes-postes kelompok kontrol subjek random

                 Desain ini menggunakan randomisasi pemilihan subjek serta menggunakan pretes dan postes. Berikut ini desainnya;

Kelompok

Pretes

Perlakuan

Postes

(R)

Eksperimen

O1

X

O2

(R)

Kontrol

O1

-

O2

1.4.4.      Desain tiga kelompok Salomon

Desain ini merupakan desain yang menggunakan pretes, postes, pemilihan secara acak, dan melibatkan tiga kelompok dengan dua kelompok kontrol.

                                    Desainnya adalah sebagai berikut:

Kelompok

Pretes

Perlakuan

Postes



1.      Desain Pra-Eksperimental (Pre Eksperimental Designs)

Desain pra-eksperimental dinamakan demikian karena mengikuti langkah-langkah dasar eksperimental , tetapi gagal memasukkan kelompok kontrol. Dengan kata lain, kelompok tunggal sering diteliti, tetapi tidak ada perbandingan dengan kelompok nonperlakuan dibuat. Desain yang termasuk pra-eksperimental adalah sebagai berikut:

a.      Studi Kasus Satu Tembakan (The One Shot Case Study)

Treatment                            Posttest

         X                                      T2                                  

 
Dalam subjek ini, subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan, seperti suatu semester pengalaman kerja akademik, dan kemudian pengukuran hasil belajar  dilakukan, seperti sebagain tingkat akademik. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah perlakuan mempunyai efek pada hasil belajar. Tanpa kelompok pembanding, tidak mungkin untuk menentukan jika skor lebih tinggi dari yang mereka miliki tanpa perlakuan. Dan tanpa skor pretes, tidaklah mungkin untuk menentukan untuk jika perubahan dalam kelompok tersebut telah terjadi. (Emzir, 2007:96)

                       

Contoh:

Menggunakan metode diskusi sebagai cara untuk menunjukkan bahwa metode tersebut adalah efektif.

Prosedur

1)      Kenakaan perakuan X, yaitu metode diskusi, kepada subjek untuk jangka waktu tertentu.

2)      Beri test  yaitu posstest, untuk mengukur prestasi belajar, dan hitungan mean-nya (Sumadi, 2008:100)

Kelemahan

Keuntungan

-          Penelitian ini sama sekali tidak ada kontrol dan tidak ada interval validity. Sifatnya yang “cepat dan mudah” menyebabkan rancangan ini sering digunakan meneliti suatu pendekatan yang inovatif, misal dalam bidang pendidikan, yang sebenarnya menyesatkan kesimpulannya

-          Tidak ada dasar untuk melakukan komparasi, kecuali secara implisit, intuitif, dan impresionistik.

-          Cara pendekatan ini biasanya mengandung “eror of mispleced precision”

-          Metode ini mungkin berguna untuk mengusut masalah-masalah yang dapat diteliti, atau untuk mengembangkan gagasan atau alat-alat tertentu, misalnya dalam action research. Rancangan ini tidak menghantar kita untuk sampai kepada kesimpulan yang dapat dipertahankan dalam penelitian.

            (Sumadi, 2008:101)

b.      Satu Kelompok Prates-Postes (The One Group Pretes-Posttest)

Kelebihan desain ini dari desain yang telah dibahas sebelumnya adalah memasukkan pretes untuk menentukan skor garis belakang. Untuk menggunakan desain ini dalam studi kita tentang performansi akademik, kita dapat membandingkan tingkat akademik sebelum memperoleh pengalaman kerja dengan tingkatan setelah melaksanakan satu semester pengalaman kerja. Sekarang kita dapat menyatakan apakah perubahan dalam hasil atau variabel terikat telah terjadi. Apa yang tidak dapat kita katakana adalah jika perubahan ini muncul semata-mata tanpa aplikasi perlakuan atau variabel bebas. Adalah mungkin bahwa semata-mata kematangan (maturasi) menyebabkan perubahan dalam tingkat, bukan pengalaman kerja itu sendiri. (Emzir, 2007:96)

Pretest                 Treatment                          Pottest

T1                              X                     T2             

 
 

Contoh:

Hal yang sama yang digunakan dalam rancangan 1 dapat digarap dengan rancangan ini, yaitu penggunaan metode diskusi sebagai metode efektif dalam mengajar.

Prosedur

1)      Kenakan  yaitu pretest untuk mengukur mean prestasi belajar sebelum subjek diajar dengan metode diskusi

2)      Kenakan subjek dengan X, yaitu metode mengajar dengan diskusi, untuk jangka waktu tertentu.

3)      Berikan , yaitu posttest untuk mengukur mean prestasi belajar setelah subjek dikenakan variabel eksperimental X
4)      Bandingkan  dan  untuk menentukan seberapakah perbedaan yang timbul jika sekiranya ada, sebagai akibat dari digunakannya variabel eksperimental X.

5)      Terapkan test statistik yang cocok untuk menentukan apakah perbedaan itu signifikan. (Sumadi, 2008:102)

Kelemahan

Kelebihan

-          Tidak ada jaminan bahwa X adalah satu-satunya faktor atau bahkan faktor utama yang menimbulkan perbedaan antara T1 dan T2.

-          Ada beberapa hipotesis tandingan yang mungkin diajukan

1.      History: selama mendapat perlakuan sebagian subjek pindah ke rumah yang lebih baik atau orangtua mereka lebih menaruh perhatian terhadap kegiatan belajar mereka

2.      Maturation: kenyataan bahwa mereka menjadi lebih, atau menjadi kurang menaruh perhatian, atau menjadi lebih antusias.

-          Pretest itu memberi landasan untuk membuat komparasi prestasi subjek yang sama sebelum dan sesudah dikenai X (experimental treatment).

-          Rancangan ini juga memungkinkan untuk mengontrol selection variable dan morality variable, jika subjek yang sama mengambil T1 dan T2 kedua-duanya.

            (Sumadi, 2008:103)

c.       Perbandingan Kelompok Statis (The Static-Group Comparison)

Desain ini berupaya untuk melengkapi kekurangan kelompok kontrol, tetapi gagal dalam hubungan memperlihatkan bahwa suatu perubahan telah muncul. Dalam studi perbandingan kelompok statis, dua kelompok dipilih, satu diantaranya menerima perlakuan dan satu yang lain tidak menerima perlakuan. Suatu skor postes ditentukan untuk mengukur perbedaan, setelah perlakuan, antara kedua kelompok. (Emzir, 2007:97)

Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokan secara rambang menjadi dua kelompok,yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Pretest                         Treatment                    Posttest

Exper Group (R)                                                   X                              T1

Control Group (R)                                                                                 T2                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

 
 

Prosedur

1)      Pilih sejumlah subjek dari suatu populasi secara acak

2)      Kelompokan subjek tersebut menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara acak

3)      Pertahankan agar kondisi-kondisi bagi kedua kelompok itu tetap sama, kecuali satu hal yaitu kelompok eksperimen dikenal variabel eksperimental X

4)      Kenakan tes T2 , yaitu variabel tergantung kepada kedua kelompok itu

5)      Hitung mean masing-masing kelompok, yaitu T2e dan T2c, dan cari perbedaan antara dua mean itu, jadi: T2e - T2c

6)      Terapkan test statistik tertentu untuk menguji apakah perbedaan itu signifikan, yaitu cukup besar untuk menolak hipotesis nol.

DESIGN VALIDITY : dengan menempatkan masing-masing subjek secara ranbang kedalam salah satu dari kelompok itu,peneliti dapat menyakan bahwa kelompok itu pada awal penelitian adalah sama (setara)

Beberapa faktor penggangu dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya ,yaitu :

a.history

b. maturation

c. testing

d. instrumentation.

(Sumadi, 2008:105)

Untuk ketiga jenis desain pra-ekperimental dapat diagram sebagai berikut:

One Shot Case Study

                                     X     T2

One Group Pretset Postest Study

                                O1       X     T2

Static Group Comparison Study

                              X      T2

                                                T2

Keterangan:

X           : Perlakuan

T1          : Pretest

T2          : Posttest

 

2.      Desain Eksperimental Sebenarnya (True-Eksperimental Designs)

Desain eksperimental yang sebenarnya melengkapi kekurangan dari dua desain yang telah dibahas sebelumnya. Desain eksperimental yang sebenarnya melaksanakan kelompok kontrol maupun cara mengukur perubahan yang muncul dalam kedua kelompok. Dalam arti ini, kita berusaha mengontrol semua variabel yang mencampuri, atau paling tidak memperhatikan pengaruhnya, sementara berusaha menentukan jika perlakuanlah yang benar-benar menyebabkan perubahan. Eksperimen yang sebenarnya sering dianggap sebagai satu-satunya metode penelitian yang dapat secara tepat mengukur hubungan sebab akibat. (Emzir, 2007:98)

a.      Desain Kelompok Kontrol Prates-Postes (The Pretest-Posttest Control Group Design)

Desain ini melengkapi kelompok kontrol maupun pengukuran perubahan, tetapi juga menambahkan suatu prates untuk menilai perbedaan antara kedua kelompok sebelum studi dilakukan. Untuk melaksanakan desain ini pada studi pengalaman kerja, kita menempatkan mahasiswa suatu akademik secara random kemudian menempatkan mahasiswa yang telah dipilih kedalam salah satu kelompok dengan menggunakan penempatan secara random. Kemudian kita akan mengukur peringkat semester setiap kelompok sebelumnya untuk memperoleh rata-rata peringkat. Perlakuan, atau pengalaman kerja kemudian diaplikasikan pada salah satu kelompok dan suatu kontrol diaplikasikan pada kelompok yang lain. (Emzir, 2007:98)

Group

Pretest

Treatment

Posttest

Exp. Group (R)

T1

X

T2

Contr. Group (R)

T2

T2

DESIGN PROCEDURE

1)      Pilih sejumlah subjek secara acak dari suatu populasi

2)      Secara acak, golongkan subjek menjadi dua keompok, yaitu kelompok eksperimen yang dikena variabe X, dan kelompok kontrol yang tidak dikenakan perlakuan

3)      Berikan pretes T1 untuk mengukur variabel tergantung pada kedua kelompok itu, lalu hitung mean masing-masing kelompok.

4)       Pertahankan semua kondisi untuk kedua kelompok itu agar tetap sama, kecuali pada satu ha yaitu kelompok eksperimen dikenakan variabel perlakuan X untuk jangka waktu tertentu.

5)      Berikan posttestT2 kepada kedua kelompok itu untuk mengukur variabe tergantung; lalu hitung meannya untuk masing-masing kelompok

Perluasan Rancangan ini

Pretest                         Treatment                                Posttest

     T1                            Xa (metode a)                               T2

     T1                            Xb (metode b)                              T2

     T1                                                                                                            T2

 
Rancangan ini dapat diperluas dengan melibatkan dari satu variabel bebas. Misalny penelitian tentang dua metode mengajar.pada kasus yang terakhir itu ,kesimpulan kesimp ulan mengenai efek entara metode a dan metode b dapat dicapai tanpa menggunakan kelompok kontrol.

(Sumadi, 2008:107)

b.      The Posttest-Only Control Group Design

Randomisasi dan perbandingan kedua kelompok kontrol dan kelompok eksperimental digunakan dalam jenis desain ini. Setiap kelompok yang dipilih dan ditempatkan secara random diberi perlakuan atau beberapa jenis kontrol. Postes kemudian diberikan kepada setiap subjek untuk menentukan jika ada perbedaan antara kedua kelompok. Sementara desain ini mendekati metode yang paling baik, ia mempunyai kelemahan sedikit pada pengukuran prates. Sulit menentukan jika perbedaan aktual dari kemungkinan perbedaan pada permulaan studi. Dengan kata lain, randomisasi baik untuk mencampur subjek, tetapi tidak dapat menjamin kita percampuran ini benar-benar menciptakan kesamaan antara kedua kelompok. (Emzir, 2007:99)



R    T1       X        T2

R   T1       X        T2

 
 

c.       Desain Solomon Empat Kelompok (The Solomon Four-Group Design)

Pretest                         Treatment                                Posttest

     T1                                   X                                        T2

     T1                                   X                                        T2

                                                                                       T2

                                                                                       T2

 
Desain ini melibatkan subjek secara random pada salah satu dari empat kelompok. Dua kelompok diberi prates dan dua kelompok tidak; satu dari kelompok prates dan satu dari kelompok nonprates diberi perlakuan eksperimental. Keempat kelompok diberi postes. Desain ini merupakan kombinasi dari desain kelompok kontrol prates-prates (the pretest-posttest equivaent group design) dan desain kelompok kontrol dengan hanya postes (the posttest –only equivalent group design). (Emzir, 2007:100)

                       

                        Design Validity

                        Rancangan ini memungkinkan untuk mengontrol dan mengukur:

1)      Efek utama pretesting

2)      Efek interaksi antara pretesting dan X

Selanjutnya, efek kombinasi antara history dan maturation dapat diukur bila mean kelompok 4 pata T2 dibandingkan dengan mean-mean pada T1. Sebenarnya rancangan ini mengabungkan dua eksperimen menjadi satu, yaitu eksperimen yang satu dengan yang lainnya tanpa pretesting. (Sumadi, 2008:109)

3.      Desain Eksperimental Semu (Quasi-Eksperimental Designs)

Desain eksperimental semu agak lebih baik dibanding desain pra-eksperimental, karena melakukan suatu cara untuk membandingkan kelompok. Akan tetapi, desain ini mempunyai kelemahan dalam satu aspek yang sangat penting dan eksperimen, yaitu rendomisasi. Desain eksperimental semu adalah sebagai berikut:

a.      The Nonequivalent Control Group Design

Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, hanya pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random. Dalam desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan, kendati kelompok tersebut dipilih dan ditempatkan tanpa melalui random. Dua kelompok yang ada diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan, dan terakhir diberikan postes.

b.      Desain Rangkain Waktu (The Time-Series Design)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *